Klasifikasi Sistem Kepartaian

Klasifikasi Sistem Kepartaian – Sistem kepartaian pada awalnya ditemukan dalam karya Duverger, yaitu untuk menggambarkan bentuk dan corak dari kehidupan bersama partai politik di beberapa negara. Duverger membayangkan sistem kepartaian adalah relasi diantara karakteristik tertentu partai politik diantaranya jumlah, ukuran respektif, sekutu, lokasi geografis, distribusi politik, dan sebagainya.

Klasifikasi Sistem Kepartaian

Klasifikasi Sistem Kepartaian

Sistem kepartaian sangat berkaitan erat dengan stabilitas dan instabilitas suatu pemerintahan. Pada umumnya, sistem dwi partai dipandang sebagai sistem kepartaian yang paling ideal bagi seluruh sistem pemerintahan. Rokkan berpendapat seperti yang dikutib Lane bahwa apakah sebuah negara berada dalam situasi  politik  yang  stabil  atau  senantiasa  bergejolak  dapat  diketahui  dengan melihat sistem kepartaiannya, konfigurasi dan warisan sejarahnya.  Ibid.

Sementara itu, Sigit Pamungkas dalam bukunya partai politik teori dan praktik di Indonesia, setidaknya ada empat pendekatan dalam memahami sistem kepartaian di sebuah negara. Empat pendekatan itu adalah :

  1. Pendekatan berbasis numerik Partai
  2. Pendekatan berbasis ukuran dan kekuatan relatif partai
  3. Pendekatan berbasis pola formasi pemerintahan
  4. Pendekatan berbasis jumlah dan jarak ideologi partai

Sebagai penjabarannya, pendekatan pertama yang dikenal adalah pendekatan berbasis numerik partai maksudnya adalah metode pendekatan ini menggolongkan sistem kepartaian sesuai dengan jumlah keberadaan partai politik di dalam suatu negara. Pendekatan ini membagi sistem kepartaian menjadi tiga yaitu sistem partai tunggal yang mana hanya ada satu kekuatan partai dalam suatu parlemen, kemudian sistem dwi partai yang mana ada dua kekuatan partai dalam suatu  parlemen  dan  sistem  multi  partai  yang  mana  terdapat  lebih  dari  dua kekuatan partai dalam suatu parlemen.

Pendekatan yang kedua ialah pendekatan berbasis ukuran dan kekuatan relatif partai dimana pendekatan ini pertama kali di lakukan oleh Jean Blondel pada tahun 1968 yang mana pada intinya pendekatan ini dilakukan dengan menghitung ukuran dan kekuatan relatif yang bersumber dari perolehan suara suatu partai politik. Pendekatan ini dilakukan dengan memperhatikan bagian rata- rata suara   yang   dimenangkan   oleh   dua   partai   terbesar   dan   kemudian  mepertimbangkan perbandingan  bagian  partai  pertama  pada  partai  kedua  dan ketiga.

Pendekatan yang berbasis ukuran dan kekuatan relatif partai ini kemudian menggolongkan sistem kepartaian menjadi empat sistem, yaitu :

  1. Sistem Dua Partai, yang mana dalam sistem ini adalah ketika hasil dari pemilihan umum menunjukkan suara dari dua partai politik dalam  suatu  negara  lebih  besar  89%  jumlah  suara sah.  Sebagai contoh : Amerika Serikat
  2. Sistem Dua setengah Partai, yang mana di dalam sistem ini adalah ketika hasil dari pemilihan umum menunjukkan suara dari dua partai politik dalam suatu negara berkisar dari 75% hingga 80 % namun terjadi perbedaan sekitar 10,5 % jumlah suara antara suara partai pertama dengan suara partai kedua. Sebagai contoh : Kanada
  3. Sistem  Multipartai-predominan,  yang  mana  di  dalam  sistem  ini terdapat satu partai politik besar didalam suatu negara yang memiliki suara  diatas  40  %  atau  bahkan  lebih  sebagai hasil  dari  pemilihan umum. Sebagai Contoh : Swedia
  4. Sistem Multi Partai tanpa partai predominan, yang mana dalam sistem ini tidak ada satupun partai politik dalam negara tersebut yang mampu memperoleh suara hingga angka 40% pada pemilihan umum. Sebagai Contoh : Belanda

Sementara itu, Pendekatan yang ketiga adalah pendekatan yang berbasis pola formasi pemerintahan yang mana termasuk pendekatan ini yaitu pola klasifikasi yang dikembangkan oleh Dahl dan Rokkan. Dahl, pada tahun 1966 mengklasifikasikan sistem kepartaian berdasarkan tingkat kompetisi antar partai politik sehingga muncullah metode dengan pola oposisi partai di arena elektoral dan legislatif yang mana dengan pola seperti itu maka ditemukan empat tipe kepartaian yakni sistem kepartaian yang kompetitif ketat, sistem kepartaian yang kooperatif dalam sistem kompetitif, sistem kepartaian yang bergabung dalam sistem kompetitif dan sistem kepartaian bergabung sepenuhnya.

Sementara itu, cara klasifikasi sarjana lain yang masuk dalam pendekatan berbasis  pola  formasi pemerintahan  adalah  klasifikasi  yang  dilakukan  oleh Rokkan. Rokkan pada tahun 1970 menggunakan pola pemerintah dan oposisi untuk mengklasifikasikan sistem kepartaian.Ibid. Halaman 47 Dengan cara yang dikemukakan Rokkan ini, maka akan tercipta setidaknya tiga tipe kepartaian yakni dengan pola 1 vs 1+1 , pola 1 vs 3-4, dan sistem multi partai dengan pola 1 vs 1 vs 1 + 2-3. Untuk menjelaskan tipe kepartaian yang dikemukakan oleh Rokkan, maka dilakukan penjelasan oleh Peter Mair, yang mana menurut penjelasan Peter Mair menyatakan bahwa pola 1 vs 1+1 adalah suatu pola dengan sistem yang di dominasi dengan kompetisi diantara dua partai politik utama dengan partai ketiga yang juga ikut terlibat di dalamnya. Ibid.

Kemudian, masih menurut Peter Mair, pola 1 vs 3-4 adalah suatu pola dimana terdapat satu partai politik besar yang beroposisi dengan gabungan beberapa partai-partai politik kecil. Untuk pola 1 vs 1 vs 1 + 2-3 PETER MAIR, menjelaskan bahwa pola ini merupakan suatu sistem dimana dalam sistem ini kompetisi antar partai politi di dominasi oleh tiga atau bahkan lebih partai politik besar yang maan perolehan suaranya relatif sama.

Baca juga :

Pendekatan yang terakhir adalah pendekatan yang berbasis jumlah dan jarak ideologi partai yang mana pendekatan ini di konsepkan oleh Sartori pada tahun 1976 sehingga dengan pendekatan ini akan ditemukan tujuh sistem kepartaian  sebagaimana  yang  tercantum  dalam  buku  partai  politik  teori dan praktik di Indonesia yaitu sistem partai tunggal, sistem partai hegemonik, sistem partai predominan, sistem dua partai, sistem pluralisme terbatas, sistem pluralisme ekstrim, dan sistem atomik. [bb]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *