Sejarah Munculnya Partai Politik

Posted on

Sejarah Munculnya Partai Politik – Partai Politik sebagai sarana bagi warga negara dalam rangka untuk ikut serta dalam pengelolaan negara merupakan suatu organisasi yang baru di dalam kehidupan manusia di bandingkan dengan organisasi negara, akan tetapi sejarah kelahiran  partai  politik  cukup panjang.  Namun,  dapat  kita lihat  bahwa  sejak dahulu, Partai politik telah di gunakan untuk memeprtahankan pengelompokan yang sudah mapan (seperti untuk gereja) atau untuk menghancurkan statusquo seperti yang dilakukan di Bolsheviks pada tahun 1917 tatkala menumbangkan kekaisaran Tsar.

Sejarah Munculnya Partai Politik

Sejarah Munculnya Partai Politik

Pada umumnya perkembangan partai politik sejalan dengan perkembangan demokrasi, yakni dalam hal perluasan hak pilih dari rakyat dan perluasan hak-hak parlemen. Partai politik pada pertama kali lahir di negara-negara Eropa barat. Dengan meluasnya gagasan bahwa rakyat merupakan faktor yang perlu diperhitungkan serta diikutsertakan dalam proses politik, maka partai politik telah lahir secara spontan dan berkembang menjadi penghubung antara rakyat di satu pihak dan pemerintah di pihak lain.

Kegiatan politik di akhir dekade 18-an di negara-negara barat pada umumnya di pusatkan dalam kelompok – kelompok politik yang ada di dalam parlemen. Baru pada akhir abad ke sembilan belas lah Partai Politik lahir yang kemudian menjadi penghubung antara rakyat dan pemerintah. Partai politik ini sendiri lahir oleh karena meluasnya hak pilih, sehingga pada masa itu kegiatan politik yang semula hanya berasa dalam lingkaran parlemen, juga akhirnya berkembang di luar parlemen dan kelompok-kelompok politik diluar parlemen melakukan pengumpulan pendukungnya menjelang pemilihan umum. oleh karenanya kelompok politik yang berada di dalam parlemen merasa perlu untuk mengembangkan suatu organisasi massa sehingga lahirlah partai politik.

Secara Umum, terdapat tiga pendekatan untuk memahami asal usul partai politik, pendekatan itu adalah pendekatan institusional, pendekatan historis dan pendekatan modernisasi.

Teori Institusional memandang bahwa lahirnya partai politik dari dua arah yaitu partai politik yang tumbuh dari dalam parlemen dan partai politik yang tumbuh dari luar parlemen. Partai yang tumbuh di dalam parlemen mekanisme pertumbuhannya sangatlah sederhana yaitu dengan pembentukan kelompok-kelompok parlemen kemudian diikuti munculnya komite-komite pemilihan, dan akhirnya berkembang menjadi suatu hubungan permanen antara kedua elemen tersebut. Sementara itu, Partai Politik yang berasal dari luar parlemen sesungguhnya   lahir   sebagai simbol   perlawanan   ataupun   sebuah   gerakan perlawanan ideologis terhadap golongan-golongan yang berkuasa. Partai politik ini ingin berusaha untuk ikut serta dalam kekuasaan untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang tidak terakomodir ataupun yang tersingkirkan.

Sementara itu, Teori Historis dalam pandangannya memberi tekanan pada krisis-krisis sistemis yang berkaitan dengan proses pembangunan bangsa diantaranya krisis yang berkaitan dengan integrasi nasional, legitimasi bangsa dan tuntutan partisipasi yang lebih besar. Dalam teori ini, krisis-krisis ini lah yang kemudian melatar belakangi lahirnya partai politik dan krisis-krisis itu akan menentukan karakter partai. Salah satu krisis yanga ada dalam teori ini yaitu krisis legitimasi adalah salah satu faktor yang memunculkan perkembangan partai politik di benua eropa pada generasi pertama. Di eropa pada saat itu sedang terjadi krisis  legitimasi  terhadap  parlemen  yang  ada  pada  saat  itu.  Pada  saat  itu, pandangan terhadap institusi-institusi perwakilan yang ada sangat negatif, partai politik yang lahir dari dalam parlemen terbentuk ketika legitimasi institusi perwakilan yang ada tersebut sedang diragukan.

Teori   selanjutnya   adalah   teori   modernisasasi   pembangunan   politik. Menurut   teori   ini,   partai   politik   merupakan   sebagai   produk   dari   adanya modernisasi di bidang sosial dan ekonomi karena ada sebuah formulasi yang mebgatakan bahwa partai-partai massa adalah produk dari modernisasi sosial.

Dalam masyarakat modern, Partai politik muncul hanya dengan maksud memobilisasi massa saja tetapi tidak memiliki maksud untuk mengadakan suatu revolusi. Beberapa ahli mengelompokan munculnya partai politik dengan dampak– dampak industrialisasi. Industrialisasi menimbulkan adanya biaya-biaya yang substansial terhadap kelompok sosial tradisonal sehingga mendorong kelompok sosial tradisional ini untuk membentuk partai politik seperti partai-partai yang berbasis agraria, sehingga dapat mempertahankan diri terhadap munculnya ancaman-ancaman dari kelompok industrialisasi.

Sementara  itu,  Maurice  Duverger  dalam  buku  Teori-teori  Mutakhir partai politik yang ditulis oleh Ichsanul Amal mengklasifikasikan asal mula partai politi tersebut ke dalam dua bagian yaitu Partai Politik yang tumbuh dalam lingkar parlemen dan partai politik yang tumbuh di luar parlemen. Partai yang tumbuh di lingkungan   parlemen   diawali   dengan   pembentukan   kelompok-kelompok parlemen , kemudian diikuti munculnya komite-komite pemilihan, dan akhirnya kedua elemen tersebut berkembang menjadi memiliki suatu hubungan yang permanen.

Di negara-negara tertentu, asal mula kelompok-kelompok parlemen itu berasal dari kelompok-kelompok kedaerahan yang kemudian berkembang membentuk suatu kelompok ideologis. Sebagai contoh di Perancis pada tahun 1789,  Partai-partai  yang  berdiri  di  dalam  majelis  konstituante perancis merupakan perkembangan dari kelompok-kelompok kedaerahan. Diawali dengan maksud untuk mempertahankan dan memperjuangkan kepentingan dari daerahnya masing-masing hingga akhirnya kelompk daerah melakukan suatu perkumpulan yang   tidak   hanya   membahas   mengenai   daerahnya   saja   namun   hingga membicarakan persoalan kebijakan nasional hingga akhirnya kelompok lokal ini menjadi suatu kelompok ideologis.

Selain daripada itu, ada pula kelompok-kelompok ideologis yang lahir bukan dari kelompok-kelompok lokal namun lahir dari pertemuan para wakil-wakil yang memiliki suatu ide yang sama dan tidak lagi sekedar mengumpulkan ide oleh karena kesamaan daerah asalnya.

Sementara itu, kemunculan komite-komite pemilihan lokal sangat erat kaitannya dengan meluasnya hak pilih rakyat. Hak pilih rakyat yang meluas itulah yang kemudian menyebabkan perlunya membawa pemilih-pemilih baru ke dalam partai. Faktor lain yang menyebabkan munculnya komite-komite pemilihan adalah perkembangan egalitarianisme dan keinginan untuk menyingkirkan kaum elite tradisional.  Oleh karena, apabila tidak ada komite pemilihan yang mampu menyelamatkan kepentingan dari pemilih baru ketika terjadi perluasan hak pilih secara tiba-tiba maka yang menang adalah kaum elite tradisional yang mana kaum elite tradisional merupakan satu-satunya calon yang dikenal.

Jika sel-sel induk, kelompok-kelompok parlementer dan komite-komite pemilihan sudah terbentuk, maka yang diperlukan supaya berubah menjadi partai politik sebenarnya tinggallah koordinasi permanen dan hubungan-hubungan reguler yang mempersatukan mereka.

Baca : Klasifikasi Sistem Kepartaian Menurut Maurine Duverger

Sementara itu, Partai yang muncul di luar parlemen umumnya muncul dari kelompok-kelompok ataupun asosiasi-asosiasi yang berada di luar parlemen seperti kelompok serikat buruh, masyarakat-masyarakat filsafat dan yang lainnya.

Sebagai contoh ialah kelahiran Partai Buruh Inggris pada tahun 1899 sebagai hasil dari kongres serikat buruh di Inggris pada saat itu. Selain itu ada pula partai-partai yang muncul dengan latar belakang agraris yang muncul akibat pengaruh daripada  koperasi-koperasi  pertanian  dan  asosiasi-asosiasi  pertanian  adapula partai  yang muncul  yang  berasal  dari  pengaruh  gereja  dan  sekte-sekte keagamaan seperti munculnya Partai Katolik Konservatif, Partai Kristen Historis,dan Partai Kristen Demokrat. [bb]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *